Emotional Intelligence Test

Apa itu tes kepribadian Emotional Intelligence?

Secara sederhana kecerdasan emosi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk memahami perasaan pribadi, memahami perasaan orang lain, memotivasi diri sendiri, dan mengelola emosi dengan baik terhadap diri sendiri, dan dalam hubungan dengan orang lain.

Goleman mengemukakan bahwa kecerdasan emosi adalah kemampuan memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi, mengandalkan dorongan hati dan tidak berlebihan dalam kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar bebas dari stres, tidak kehilangan kemampuan berpikir, berempati, dan berdoa.
Sedangkan Cooper mengartikannya sebagai suatu kemampuan untuk merasakan, memahami secara efektif, menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi, koneksi, dan pengaruh yang manusiawi.

Kecerdasan emosi dalam perspektif agama adalah kemampuan untuk tetap mengikuti tuntutan agama, mengelola emosi ketika menghadapi musibah, mendapatkan keberuntungan, menghadapi pertentangan serta ketidaksepahaman dengan orang lain, menghadapi tantangan hidup dan kondisi ekonomi baik dalam kondisi berlebih maupun kekurangan.

Sejarah Emotional Intelligence

Istilah kecerdasan emosi pertama kali dilontarkan oleh psikolog Petersolovey dari Harvard University dan John Mayer dari University of New Hampshire pada tahun 1990, dengan menyebutkan kualifikasi-kualifikasi emosi manusia yang meliputi empati, mengungkapkan dan memahami perasaan, pengendalian amarah, kemandirian, kemampuan menyesuaikan diri, kemampuan memecahkan masalah antar pribadi, ketekunan dan kesetiakawanan, keramahan, dan sikap hormat.

Istilah ini populer pada tahun 1995 dan dipopulerkan oleh Daniel Goleman, seorang psikolog dari Harvard University dalam karya monumentalnya berjudul Emotional Intelligence. Karyanya ini menjadikannya populer khususnya di bidang psikologi. Hasil risetnya yang menggemparkan dengan mendefinisikan apa arti cerdas, dan dengan adanya temuan baru tentang otak dan manusia, memperlihatkan mengapa orang yang ber-IQ tinggi justru gagal sementara orang yang ber-IQ sedang menjadi sukses. Faktor inilah menurut Goleman yang dapat memacu seseorang melakukan cara lain sehingga menjadi cerdas, yang kemudian dia sebut sebagai kecerdasan emosi.

Dalam risetnya Daniel Goleman mengamati kurang lebih lima ribu perusahaan yang tersebar di seluruh dunia, Goleman mendapatkan gambaran keterampilan yang dimiliki para bintang kinerja di segala bidang yang membuat mereka berbeda dengan yang lainnya. Dari pekerjaan tingkat bawah sampai posisi eksekutif, faktor yang terpenting bukan kecerdasan intelektual, pendidikan tinggi atau keterampilan teknis, melainkan kecerdasan emosi.

Pentingnya Emotional Intelligence atau Emotional Quotient (EQ)

Emotional Intelligence atau yang sering disebut sebagai Emotional Quotient (EQ) adalah fondasi dari sejumlah keterampilan penting - berdampak hampir pada semua yang dikatakan dan lakukan setiap hari. Emotional Intelligence (EQ) sangat penting dimiliki karena EQ sangat berpengaruh terhadap kesuksesan dan kebahagiaan hidup seseorang. Emotional Intelligence (EQ) dapat membantu menciptakan hubungan yang lebih kuat, sukses ditempat kerja untuk keberhasilan, kinerja, dan bahkan sebagian besar kinerja bergantung pada EQ . Sehingga EQ merupakan prediktor kinerja terbaik, bahkan lebih baik dari IQ. Tentu saja, mereka yang ber-EQ tinggi menghasilkan uang lebih banyak rata-rata sebesar $ 20.000 lebih banyak per tahun dibandingkan mereka yang ber-EQ rendah.

Sebuah study yang dilakukan pada lulusan Harvard University baik dari lulusan bisnis, hukum, kedokteran maupun pengajaran menunjukkan korelasi nol atau genatif antara indikator IQ (skor ujian masuk) dengan keberhasilan karir berikutnya. Ini menunjukkan pentingnya kecerdasan emosional (EQ) karena kecerdasan intelektual (IQ) saja tidak bisa menjamin kesuksesan seseorang dimasa yang akan datang. Justru orang yang memiliki kecerdasan emosional (EQ) yang tinggilah yang dapat mencapai kesuksesan dimasa yang akan datang.

Ciri-Ciri Emotional Intelligence

Menurut R. Descartes sebagaimana dikutip oleh E. Usman Efendi dan Juhaya S. Praja, bahwa emosi-emosi dasar yang terdapat pada manusia sebanyak enam macam, yaitu:

  1. Desire "keinginan"
  2. Hate "benci"
  3. Wonder "kagum"
  4. Sorrow "kesedihan"
  5. Love "cinta"
  6. Joy "kegembiraan".

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Emotional Intelligence

Menurut Agustian (2007), ada 3 faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosional:

  1. Faktor psikologis
    Faktor psikologis merupakan faktor yang berasal dari dalam diri individu. Faktor internal ini akan membantu individu dalam mengelola, mengontrol, mengendalikan dan mengkoordinasikan keadaan emosi agar termanifestasi dalam perilaku secara efektif. Menurut Goleman (2007) kecerdasan emosi erat kaitannya dengan keadaan otak emosional. Bagian otak yang mengurusi emosi adalah sistem limbik. Sistem limbik terletak jauh dalam hemisfer otak besar dan terutama bertanggung jawab atas pengaturan emosi dan impuls. Peningkatan kecerdasan emosi secara fisiologis dapat dilakukan dengan puasa. Puasa tidak hanya mengendalikan dorongan fisiologis manusia, namun juga mampu mengendalikan kekuasaan impuls emosi.
  2. Faktor pelatihan emosi
    Kegiatan yang dilakukan secara berulang-ulang akan menciptakan kebiasaan, dan kebiasaan rutin tersebut akan menghasilkan pengalaman yang berujung pada pembentukan nilai (value). Reaksi emosional apabila diulang-ulang pun akan berkembang menjadi suatu kebiasaan. Pengendalian diri tidak muncul begitu saja tanpa dilatih. Melalui puasa dan kontemplasi diri, dorongan, keinginan, maupun reaksi emosional yang negatif dilatih agar tidak dilampiaskan begitu saja sehingga mampu menjaga tujuan dari puasa itu sendiri. Kejernihan hati yang terbentuk akan menghadirkan suara hati yang jernih sebagai landasan penting bagi pembangunan kecerdasan emosi.
  3. Faktor pendidikan
    Pendidikan dapat menjadi salah satu sarana pembelajaran individu untuk mengembangkan kecerdasan emosi. Individu mulai dikenalkan dengan berbagai bentuk emosi dan bagaimana mengelolanya melalui pendidikan. Pendidikan tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga di lingkungan keluarga dan masyarakat. Sistem pendidikan di sekolah tidak boleh hanya menekankan pada kecerdasan akademik saja namun juga kecerdasan emosi. Kecerdasan emosi untuk mendidik individu agar memiliki kejujuran, komitmen, visi, kreativitas, ketahanan mental, kebijaksanaan, keadilan, kepercayaan, peguasaan diri, pemahaman terhadap orang lain dan lingkungannya, empaty, kemampuan mengelola hubungan serta melakukan sinergi dengan lain merupakan bagian mendasar dalam kecerdasan emosi.

Manfaat Emotional Intelligence

  1. Menghadapi stress
    Mampu mengatasi stres, menghadapi tekanan stres, dan mampu menahan emosi sehingga tidak akan berlarut-larut dalam stres.
  2. Kontrol impuls (menahan diri)
    Mampu menunda kesenangan sesaat untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Kemampuan mengontrol impuls menahan diri ibarat suatu seni kesabaran dan rasa sakit atau kesulitan yang ditukar hari ini dengan kesenangan yang jauh lebih besar dimasa depan.
  3. Mengelola suasana hati
    Mampu mengelola suasana hati. Mengelola suasana hati adalah kemampuan emosional yang meliputi kemampuan untuk tetap tenang dalam suasana apapun, mampu menghilangkan kecemasan yang timbul, mengatasi kesedihan, dan mampu mengatasi suasana yang menjengkelkan.
  4. Motivasi diri
    Mampu memotivasi diri. Orang yang mampu memotivasi diri akan cenderung sangat produktif dan efektif dalam hal apapun. Ada begitu banyak cara untuk memotivasi diri sendiri, antara lain dengan banyak membaca buku atau artikel positif, tetap fokus pada impian Anda, mengevaluasi diri dan terus melakukan introspeksi diri.
  5. Memiliki keterampilan sosial
    Mampu menjalin hubungan dengan siapapun. Seseorang yang memiliki kecerdasan emosional (EQ) mudah untuk bergaul, menjadi pribadi yang menyenangkan dan toleransi terhadap orang lain.
  6. Mampu memahami orang lain
    Mampu memahami orang lain. Memahami dan menghormati orang lain adalah landasan dari kecerdasan emosional (EQ). Ini disebut sebagai empati. Keuntungan memahami orang lain adalah memiliki kesempatan untuk menjalin komunikasi dan hubungan yang lebih baik dengan orang lain.

Manfaat tingkat Emotional Intelligence yang Tinggi

  1. Membuat orang lain nyaman terhadap kehadiran Anda
  2. Tetap dalam kondisi tenang meskipun sedang mengalami masalah ataupun krisis
  3. Membina hubungan baik dengan berbagai pihak di lingkungan kerja
  4. Membantu mengatasi konflik yang muncul di lingkungan kerja
  5. Memiliki empati terhadap orang lain
  6. Mempengaruhi orang lain dengan taktik yang efektif
  7. Mengatasi perubahan yang terjadi dalam lingkungan kerja

Pengelompokan Emosi

Emosi dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian, yaitu:

  1. Emosi sensoris, yaitu emosi yang ditimbulkan oleh rangsangan dari luar terhadap tubuh, seperti rasa dingin, manis, sakit, lelah, kenyang, dan lapar.
  2. Emosi psikis, yaitu emosi yang mempunyai alasan-alasan kejiwaan. Yang termasuk emosi ini, di antaranya adalah:
    • Perasaan intelektual, yaitu yang mempunyai hubungannya dengan ruang lingkup kebenaran.
    • Perasaan sosial, yaitu perasaan yang menyangkut hubungannya dengan orang lain, baik bersifat perorangan maupun kelompok.
    • Perasaan susila, yaitu perasaan yang berhubungan dengan nilai-nilai baik dan buruk atau etika.
    • Perasaan keindahan (estetika), yaitu perasaan yang berkaitan erat dengan keindahan dari sesuatu, baik bersifat kebendaan atau kerohanian.
    • Perasaan ketuhanan, yaitu salah satu kelebihan manusia sebagai makhluk Tuhan, dianugerahi fitrah (kemampuan atau perasaan) untuk mengenal Tuhannya

Model Emotional Intelligence Berdasarkan Kemampuan

  1. Menyadari Emosi
    Kemampuan untuk mendeteksi dan menguraikan emosi pada wajah, gambar, suara, dan artefak-artefak budaya - termasuk didalamnya kemampuan untuk mengidentifikasi emosi yang dimiliki seseorang. Menyadari emosi mewakili aspek dasar dari kecerdasan emosional, karena membuat semua pengolahan informasi emosional lainnya memungkinkan.
  2. Menggunakan Emosi
    Kemampuan untuk memanfaatkan emosi untuk memudahkan berbagai kegiatan kognitif, seperti berpikir dan pemecahan masalah. Orang dengan kecerdasan emosional dapat sepenuhnya diandalkan karena dapat mengubah 'mood' yang paling sesuai dengan pekerjaan yang sedang ditanganinya.
  3. Memahami Emosi
    Kemampuan untuk memahami bahasa emosi dan untuk menyadari hubungan yang rumit di antara emosi. Sebagai contoh, pemahaman emosi meliputi kemampuan untuk sensitif pada variasi emosi, dan kemampuan untuk mengenali dan menggambarkan bagaimana emosi berkembang dari waktu ke waktu.
  4. Mengelola Emosi
    Kemampuan untuk mengatur emosi baik dalam diri kita maupun orang lain. Karenanya, orang dengan kecerdasan emosional dapat memanfaatkan emosi, bahkan emosi yang negatif serta mengelolanya untuk pencapaian tujuan.